Cari Blog Ini

Senin, 07 Januari 2013

Pembaruan kondisi terkini Simpang 5


Kecewa, begitulah yang saya rasakan ketika melihat pedestrian simpang 5 yang diperbaharui. Tidak dipercantik dengan bahan yang lebih bagus tapi dibangun seadanya dengan hanya memberikan efek tidak rata. Saat hujan, pedestrian terlihat ngecembeng air karena air tidak dapat mengalir dan hanya kering bila sinar matahari terik. Tindakan menciptakan efek tidak merata pada pedestrian simpang 5 tidak jauh karena alasan pemanfaatan lahan sepatu roda yang semakin ramai. Objek permainan sepatu roda sebagai hiburan masyarakat pada malam hari semakin ramai sehingga mungkin membuat jantung kota Semarang ini agak macet. Namun kemacetan terjadi pada malam hari, bukan disaat jam-jam kerja. Semakin larut kawasan simpang 5 khususnya jalan pahlawan dan kawasan taman KB semakin ramai. Mungkin itulah alasan agar simpang 5 sekarang tidak lagi dijadikan lahan para pelaku bisnis sepatu roda. Inilah salah satu kebijakan pemerintah untuk menertibkan kembali kawasan simpang 5. Beberapa bulan yang lalu setelah pembaruan pedestrian di kota Semarang selesai dikerjakan, demam sepatu roda mewabah tepat di jantung kota, Simpang Lima Semarang. Pedistrian yang sangat lebar dan halus mulai di sepanjang jalan Pandanaran, tepi simpang 5, hingga pedestrian jalan pahlawan dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk bermain sepatu roda pada malam hari. Sebetulnya, pemanfaatan ini tercetus dari sebuah ide dalam mengisi kegiatan pra puasa hingga libur lebaran kemarin sekitar bulan Juli dan Agustus 2012. Bagi sebagian masyarakat kegiatan ini cukup menarik terlebih untuk menanti buka puasa dan mengisi waktu setelah tarawih sampai waktu sahur tiba. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian pelaku usaha dengan berbinis rental sepatu roda berbagai ukuran. Benar saja, menurut salah seorang pemilik rental, bisnis ini sangat menguntungkan. Tak tanggung-tanggung, keuntungan pemilik rental tiap malamnya semakin meningkat fantastis hingga jutaan rupiah. Para pengunjung yang tertarik berlatih dan bermain sepatu roda dikenakan beban sewa sebesar Rp. 15000 perjamnya. Kebanyakan pemain sepatu roda ini adalah kalangan remaja dan anak-anak, namun kalangan dewasa dan setengah baya pun juga ikut mendominasi sebagai pemain sepatu roda. Para pemain professional dan amatiran berpadu jadi satu, ada kalanya mereka bermain bersama membentuk rangkaian memanjang kebelakang. Jatuh bangun pun seakan jadi tontonan menarik yang sudah biasa di Simpang 5 ini. Bagi saya, ini menjadi tantangan baru yang dapat kita lakukan dalam mengisi malam week-end. Saya dan pasangan tertarik mencoba. Setelah beberapa kali kami akhirnya berhasil merekomendasikan permainan ini pada teman dan saudara. Mereka pun tertarik sama seperti halnya saya. Pada sebuah kesempatan di pertengahan bulan Oktober bersama dengan keluarga, akhirnya saya berhasil mengabadikan momen ini. Berlatih bersama dengan kegembiraan dan canda. Jatuh bangun yang dialami tidak menjadikan kami jera malah semakin bersemangat mencoba hingga melanggar batas jam sewa. Untung sang pemilik rental sepatu roda mau berbaik hati. Keluarga besar “ H n G ” in action
Tidak ada kendala yang berarti bagi pemula seperti kami. Semuanya kami latih secara otodidak tanpa instruktur khusus. Hanya bermodal nekat saja kami bisa menguasai sepatu beroda tersebut. Objek bermain sepatu roda di simpang semakin ramai, tak hanya pemilik rental sepatu roda , pedagang asongan dan penjaja jajanan keliling pun ikut merauk untung. Pengunjung mendapatkan kepuasan dengan hanya sekedar bermain dan yang menjadikan sepatu roda menjadi hobi baru yang menyenangkan. Semoga para pemilik bisnis sepatu roda tidak mengalami kerugian berarti, roda perekonomian antar penyewa dan pengguna sepatu roda tetap berjalan dengan baik, semoga ada lahan lain yang lebih menyenangkan yang dapat digunakan selain simpang 5. Salam sensass!!!!

Tidak ada komentar: