Cari Blog Ini

Rabu, 16 Mei 2012

BIYUNG......HOW KIND YOU ARE........”


Sepenggal kisah Ibu para pendaki Ungaran di dusun Promasan Kendal

Melewatkan week-end dengan kegiatan unik dan seru bisa jadi pilihan untuk refreshing dari segala kepenatan rutinitas sehari-hari. Rencana perjalanan atau pun liburan seharusnya diatur  sebelumnya agar bisa mendapatkan week-end yang menyenangkan. Tak seperti week-end biasa yang sekedar hang-out bersama teman- teman di shopping center, coffe shop atau hanya hang - arround di rumah, tema ‘’back to nature ‘’ bisa jadi pilihan menarik  dalam list rencana liburan Anda, seperti hari libur  kemarin, 24 Maret 2012, saia manfaatkan waktu libur tersebut untuk menyatu dengan alam, this is a good idea I think. Anda mau coba ?

Yeah, Dusun Promasan yang berada di sela lereng gunung Ungaran Semarang menjadi pilihan  atas rekomendasi teman yang juga bersama saia  melewatkan week-end seru ini  ^_^  thanks so much 4 him.

Kami berangkat bersama pada Sabtu sore sekitar pukul 5 menuju Boja, Kendal yang merupakan akses jalur  termudah yang bisa kami lewati. Sampai di Kampung Jawa Sekatul tepatnya  di daerah wisata pemandian air panas Nglimut, perjalanan menantang ini baru dimulai. Jadi bersiaplah ! Jalan yang menanjak tajam dikawasan hutan pinus yang menjadi out bond area dan bumi perkemahan ini baru menyapa kita « Bienvenue » ‘Selamat datang’’ :). Jalur ini bisa dilalui baik dengan mendaki, berjalan kaki maupun dengan berkendara, seperti sepeda motor , pick up atau bahkan untuk truck sekalipun, itulah kelebihannya. Namun demikian tetap harus waspada, berhati-hati dan jadilah driver yang handal karena jalannya yang  sangat menanjak curam, menurun  dan berkelok.

Sebelum kami sampai di Promasan , kami melewati pabrik teh Medini dengan pungutan  biaya akses masuk jalan hanya Rp. 2500,- dan setelah beberapa menit mengedarai motor melewati hutan pinus, kami  sampai di desa terakhir yang oleh penduduk setempat disediakan  tempat untuk memarkir kendaraan bagi para pendaki yang ingin berpetualang dengan  berjalan kaki.

 

Pemandangan yang indah, kebun teh yang terhampar hijau dengan udara yang sejuk dapat kita nikmati dari sini....<<c’est très magnifique... !>>

Setelah beberapa menit melalui jalan yang cukup memacu adrenalin, ahirnya sampailah di sebuah dusun yang terakhir « Promasan », dusun yang hanya dihuni sekitar  kurang lebih 20 KK. Di Dusun yang ramah dan menjadi sahabat bahkan induk semangnya para pendaki ini begitu unik,bersih dan alami, tak ada listrik dari PLN ^_^ namun warga tetap dapat memperoleh pasokan listrik dari mesin dissel yang dikelola masyarakat setempat walaupun hanya hidup mulai pukul18.00-21.00. Bisa Anda bayangkan ? sekedar untuk mendapatkan hiburan atau berita dari tayangan televisi, nge-charge hp, terbatas hanya pada jam-jam tersebut. Walaupun dengan segala keterbatasan tersebut, masyarakat promasan tetap arif, ramah, dan berjiwa tepa slira yang tinggi,,,, inilah salah satu kearifan  lokal tanah air kita yang patut kita teladani. Manusia, alam, lingkungan, semua bersatu dan bersinergi dengan baik disini...


Di dusun ini juga saia akan memperkenalkan pada  Anda sosok inspiratif yang sangat ramah n menyenangkan, Beliau menjadi ibu n eyang-nya para pendaki Ungaran, panggil saja beliau dengan « Biyung ». Untuk merehatkan badan dari perjalanan yang menyenangkan tersebut, kami bermalam di tempat beliau. 


Malam yang semakin larut tentu tidak terlewat begitu saja hanya dengan sleep n dream but...kami menikmati udara malam  gunung Ungaran sambil berkonkow2 beratap langit n ribuan bintang dilengkapi dengan secangkir kopi. Kami juga mengamati  beberapa kelompok mahasiswa yang sedang berkegiatan, baik camping, makrab, ataupun kegiatan tertentu. Eits, ada something yang mendekatiku...bercahaya n beterbangan, hahaha “kunang-kunang”, i like it! tanpa basa basi, hasrat untuk  hunting kunang-kunang tidak dapat terbendung dan i get it one, hore! Dapet mainan baru...... ^_^ dan itu juga berkat bantuan rekan saia, diletakkannya kunang2 dikedua tanganku yang terbuka, waw!!! ‘’romance lebay’’ seperti cerita FTV, tambah lagi thanks-na, makasie yach honey...

Awal yang menyenangkan dari cerita saya didusun tersebut. Bagi yang ingin sekedar berlibur tanpa harus mendaki, Promasan bisa jadi pilihan. Tak perlu membawa bekal logistik yang banyak, karena beberapa rumah penduduk disana menjadi warung-warung kecil yang menyediakan perbekalan bagi para pendaki, petualang ataupun yang hanya bertamu seperti saya,,,, heeee :) Anda bisa memesan makanan  dan minuman hangat sederhana disana. Dan bagi yang muslim, di belakang rumah biyung terdapat mushola untuk presensi sholat Anda. Selain itu, terdapat beberapa lapangan untuk mendirikan tenda dan barak peristirahatan.
----------------------------^_^---------------------------------

Pagi datang menyapa......

Dingin menyelimuti pagi itu, serasa masie ingin terlelap , masih malas membuka SB yang membungkus rapat badanku, dan malas juga beranjak dari t4 tidur. Terlihat aktivitas pagi yang mulai bergeliat baik penduduk sekitar maupun para pendatang sementara. Terlihat juga Biyung dan Mbah kakung  sudah bangun dan mulai menghidupkan api tungkunya. Malam dan pagi di depan tungku ‘’pawon’’  menjadi cara jitu mengusir rasa dingin, layaknya didepan perapian ala-ala Eropa. Di depan ‘’pawon’’ sembari memasak pun bisa diselingi obrolan-obrolan dan  candaan khas biyung dengan para pendaki. Begitu sederhana namun suasana hangat dan ramah memecah kebekuan dinginnya Ungaran. 

Dengan senang beliau menawari kami request order makanan dan minuman yang bisa bliau masakkan untuk para tamu2nya. Sesekali terdengar suara lengkingan beliau mengucap kata “waiyyyyah...!” bernada khas seperti latihan bela diri ala China saat seorang cucu pendaki beliau menggoda. Hahahaha, kami pun tertawa renyah dibuatnya. Begitulah biyung....usia rentanya tidak jadi penghalang untuk bergaul dan bercanda dengan pemuda pemudi seperti kami. Tak ada kata lelah untuk melayani para pendaki baik t4 bermalam yang teramat sederhana, makanan atau pun sekedar minuman hangat. 

Berikutnya....kegiatan pagi kami baru dimulai, menikmati indahnya suasana kebun teh yang menghampar luas, suasana hijau, udara sejuk n puncak Ungaran pun terlihat mempesona, waaaw...”c’est très magnifique!” jangan lewatkan beautiful sun rise yang mulai menghangatkan  Promasan.

Walaupun belum sempat mandi....tapi masie sempat  narsisria euy, voila..... 







 
Di area kebun teh ini terdapat gua peninggalan pada masa perang dunia ke II. Gua ini diciptakan pada saat pendudukan Jepang, oleh karena itu gua ini dikenal dengan nama “Gua Jepang”. Gua ini memiliki 3 buah pintu masuk yang berfungsi juga sebagai lalu lintas pergantian udara atau ventilasi . Panjang lorong gua sekitr 150 meter  yang dilengapi dengan ruangan-ruangan tertentu disisi kanan dan kiri lorong berfungsi sebagai tempat persembunyian para tentara Jepang dahulu. 
Setelah puas menikmati suasana pagi, this time to cooking with my biyung...


Sebenarnya  saya hanya berniat membantu memasak beliau karena saya dan rekan sudah breakfast di warung lain, tapi ternyata beliau masak untuk kami, dan potongan bumbu-bumbu yang ku siapkan bersama beliau ternyata diperuntukan khusus saia dan rekan. Olala...baik sekali, dan kami pun breakfast  lagi, double kenyang dech.... Biyung selalu memasak untuk siapa saja yang bertamu dikediamannya. Walaupun baru kenal, saya  diperlakukan sebagaimana cucunya sendiri. Satu lagi pelajaran yang saya petik,” keramahan adalah memberikan tempat nyaman dan penghargaan untuk diri sendiri dan orang lain”. 


Jalan-jalan dan makan sudah, waktunya mandi n go home......
Dan untuk mandi, Promasan menyediakan t4 mandi umum. Inilah sumber mata air dan candi promasan peninggalan  leluhur, konon, bagi yang mandi ataupun berwudhu dit4 ini akan menjadi awet muda



Demikian cerita unik dari saya, Semoga bermanfaat, tetaplah menjaga kelestarian alam kita, dan beramahlah.... karena ramah itu memberi kenyamanan hati bagi sesama, saling menghargai dan berbijaksana....semangat..!!!! ^_^



Tidak ada komentar: