Sepenggal kisah Ibu para pendaki Ungaran di dusun
Promasan Kendal
Melewatkan
week-end dengan kegiatan unik dan
seru bisa jadi pilihan untuk refreshing
dari segala kepenatan rutinitas sehari-hari. Rencana perjalanan atau pun
liburan seharusnya diatur sebelumnya
agar bisa mendapatkan week-end yang
menyenangkan. Tak seperti week-end biasa yang sekedar hang-out
bersama teman- teman di shopping center,
coffe shop atau hanya hang - arround di rumah, tema ‘’back to nature ‘’ bisa jadi
pilihan menarik dalam list rencana
liburan Anda, seperti hari libur kemarin, 24 Maret 2012, saia manfaatkan waktu
libur tersebut untuk menyatu dengan alam, this
is a good idea I think. Anda mau coba ?
Yeah, Dusun Promasan yang berada di
sela lereng gunung Ungaran Semarang menjadi pilihan atas rekomendasi teman yang juga bersama
saia melewatkan week-end seru ini ^_^ thanks
so much 4 him.
Kami berangkat bersama pada Sabtu
sore sekitar pukul 5 menuju Boja, Kendal yang merupakan akses jalur termudah yang bisa kami lewati. Sampai di
Kampung Jawa Sekatul tepatnya di daerah
wisata pemandian air panas Nglimut, perjalanan menantang ini baru dimulai. Jadi
bersiaplah ! Jalan yang menanjak tajam dikawasan hutan pinus yang menjadi out bond area dan bumi perkemahan ini
baru menyapa kita « Bienvenue » ‘Selamat
datang’’ :). Jalur ini bisa dilalui baik dengan mendaki, berjalan kaki
maupun dengan berkendara, seperti sepeda motor , pick up atau bahkan untuk
truck sekalipun, itulah kelebihannya. Namun demikian tetap harus waspada,
berhati-hati dan jadilah driver yang handal karena jalannya yang sangat menanjak curam, menurun dan berkelok.
Sebelum kami sampai di Promasan ,
kami melewati pabrik teh Medini dengan pungutan
biaya akses masuk jalan hanya Rp. 2500,- dan setelah beberapa menit
mengedarai motor melewati hutan pinus, kami
sampai di desa terakhir yang oleh penduduk setempat disediakan tempat untuk memarkir kendaraan bagi para
pendaki yang ingin berpetualang dengan
berjalan kaki.
Pemandangan
yang indah, kebun teh yang terhampar hijau dengan udara yang sejuk dapat kita
nikmati dari sini....<<c’est très magnifique... !>>
Setelah
beberapa menit melalui jalan yang cukup memacu adrenalin, ahirnya sampailah di
sebuah dusun yang terakhir « Promasan », dusun yang hanya dihuni
sekitar kurang lebih 20 KK. Di Dusun
yang ramah dan menjadi sahabat bahkan induk semangnya para pendaki ini begitu
unik,bersih dan alami, tak ada listrik dari PLN ^_^ namun warga tetap dapat
memperoleh pasokan listrik dari mesin dissel yang dikelola masyarakat setempat
walaupun hanya hidup mulai pukul18.00-21.00. Bisa Anda bayangkan ? sekedar
untuk mendapatkan hiburan atau berita dari tayangan televisi, nge-charge hp, terbatas hanya pada jam-jam
tersebut. Walaupun dengan segala keterbatasan tersebut, masyarakat promasan
tetap arif, ramah, dan berjiwa tepa slira
yang tinggi,,,, inilah salah satu kearifan lokal tanah air kita yang patut kita teladani.
Manusia, alam, lingkungan, semua bersatu dan bersinergi dengan baik disini...

Di dusun ini juga saia akan
memperkenalkan pada Anda sosok
inspiratif yang sangat ramah n menyenangkan, Beliau menjadi ibu n eyang-nya para
pendaki Ungaran, panggil saja beliau dengan « Biyung ». Untuk
merehatkan badan dari perjalanan yang menyenangkan tersebut, kami bermalam di
tempat beliau.
Malam yang semakin larut tentu tidak
terlewat begitu saja hanya dengan sleep n
dream but...kami menikmati udara
malam gunung Ungaran sambil berkonkow2
beratap langit n ribuan bintang dilengkapi dengan secangkir kopi. Kami juga
mengamati beberapa kelompok mahasiswa
yang sedang berkegiatan, baik camping, makrab, ataupun kegiatan tertentu. Eits,
ada something yang
mendekatiku...bercahaya n beterbangan, hahaha “kunang-kunang”, i like it! tanpa basa basi, hasrat
untuk hunting kunang-kunang tidak dapat
terbendung dan i get it one, hore! Dapet
mainan baru...... ^_^ dan itu juga berkat bantuan rekan saia, diletakkannya kunang2 dikedua tanganku yang terbuka, waw!!! ‘’romance lebay’’
seperti cerita FTV, tambah lagi thanks-na, makasie yach honey...
Awal yang menyenangkan dari cerita
saya didusun tersebut. Bagi yang ingin sekedar berlibur tanpa harus mendaki,
Promasan bisa jadi pilihan. Tak perlu membawa bekal logistik yang banyak,
karena beberapa rumah penduduk disana menjadi warung-warung kecil yang
menyediakan perbekalan bagi para pendaki, petualang ataupun yang hanya bertamu
seperti saya,,,, heeee :) Anda bisa memesan makanan dan minuman hangat sederhana disana. Dan bagi
yang muslim, di belakang rumah biyung terdapat mushola untuk presensi sholat
Anda. Selain itu, terdapat beberapa lapangan untuk mendirikan tenda dan barak
peristirahatan.
----------------------------^_^---------------------------------
Pagi datang menyapa......
Dingin menyelimuti pagi itu, serasa
masie ingin terlelap , masih malas membuka SB yang membungkus rapat badanku,
dan malas juga beranjak dari t4 tidur. Terlihat aktivitas pagi yang mulai bergeliat baik
penduduk sekitar maupun para pendatang sementara. Terlihat juga Biyung dan Mbah
kakung sudah bangun dan mulai
menghidupkan api tungkunya. Malam dan pagi di depan tungku ‘’pawon’’ menjadi cara jitu mengusir rasa dingin,
layaknya didepan perapian ala-ala Eropa. Di depan ‘’pawon’’ sembari memasak pun
bisa diselingi obrolan-obrolan dan
candaan khas biyung dengan para pendaki. Begitu sederhana namun suasana hangat dan ramah memecah kebekuan dinginnya
Ungaran.
Dengan senang beliau menawari kami
request order makanan dan minuman yang bisa bliau masakkan untuk para tamu2nya.
Sesekali terdengar suara lengkingan beliau mengucap kata “waiyyyyah...!”
bernada khas seperti latihan bela diri ala China saat seorang cucu pendaki
beliau menggoda. Hahahaha, kami pun tertawa renyah dibuatnya. Begitulah
biyung....usia rentanya tidak jadi penghalang untuk bergaul dan bercanda dengan
pemuda pemudi seperti kami. Tak ada kata lelah untuk melayani para pendaki baik
t4 bermalam yang teramat sederhana, makanan atau pun sekedar minuman hangat.
Berikutnya....kegiatan pagi kami
baru dimulai, menikmati indahnya suasana kebun teh yang menghampar luas,
suasana hijau, udara sejuk n puncak Ungaran pun terlihat mempesona,
waaaw...”c’est très magnifique!” jangan lewatkan beautiful sun rise yang mulai menghangatkan Promasan.
Walaupun
belum sempat mandi....tapi masie sempat narsisria euy, voila.....
Di area kebun teh ini terdapat gua
peninggalan pada masa perang dunia ke II. Gua ini diciptakan pada saat
pendudukan Jepang, oleh karena itu gua ini dikenal dengan nama “Gua Jepang”.
Gua ini memiliki 3 buah pintu masuk yang berfungsi juga sebagai lalu lintas
pergantian udara atau ventilasi . Panjang lorong gua sekitr 150 meter yang dilengapi dengan ruangan-ruangan
tertentu disisi kanan dan kiri lorong berfungsi sebagai tempat persembunyian
para tentara Jepang dahulu.
Setelah puas menikmati suasana pagi,
this time to cooking with my biyung...
Sebenarnya saya hanya berniat membantu memasak beliau karena
saya dan rekan sudah breakfast di warung lain, tapi ternyata beliau masak untuk
kami, dan potongan bumbu-bumbu yang ku siapkan bersama beliau ternyata diperuntukan
khusus saia dan rekan. Olala...baik sekali, dan kami pun breakfast lagi, double
kenyang dech.... Biyung selalu memasak untuk siapa saja yang bertamu
dikediamannya. Walaupun baru kenal, saya
diperlakukan sebagaimana cucunya sendiri. Satu lagi pelajaran yang saya
petik,” keramahan adalah memberikan tempat nyaman dan penghargaan untuk diri
sendiri dan orang lain”.
Jalan-jalan
dan makan sudah, waktunya mandi n go
home......
Dan untuk mandi, Promasan
menyediakan t4 mandi umum. Inilah sumber mata air dan
candi promasan peninggalan leluhur,
konon, bagi yang mandi ataupun berwudhu dit4 ini akan menjadi awet muda
Demikian cerita unik dari saya,
Semoga bermanfaat, tetaplah menjaga kelestarian alam kita, dan beramahlah....
karena ramah itu memberi kenyamanan hati bagi sesama, saling menghargai dan
berbijaksana....semangat..!!!! ^_^